Home » Ruang Temu

Siapa Jowvy ?

Siapa jowvy kumala

Life Transition Coach

Kenalan dulu yuk, saya Jowvy Kumala, dan setahun terakhir ini saya menekuni profesi sebagai Life Coach, sebutan spesifiknya Life Transition Coach. Perjalanan ini sebenarnya tidak direncanakan dari awal. Saya adalah mantan karyawan di perusahaan telekomunikasi seluler yang memutuskan untuk pensiun dini pada tahun 2020. Passion saya di dunia Diving ceritanya waktu itu ingin saya maksimalkan. Intinya saya mau diving ajah makanya milih pensiun dini.

 

Kena Tonjok dong

Setelah pensiun, saya ketemu pandemi dan berlanjut dengan mengalami krisis hidup yang cukup berat. Pendek cerita saya lalu memutuskan untuk belajar ilmu coaching, awalnya hanya untuk ‘menolong diri sendiri’. Saya butuh cara untuk menghadapi turbulensi emosi dan tantangan hidup yang saat itu rasanya asli bikin kayak mo meninggoy banget.

Satu hal yang nonjok saya waktu itu adalah, curhat ke orang yang tidak tepat seringkali malah memperburuk situasi. Alih-alih menemukan solusi, cerita kita malah menyebar kemana-mana, kitanya disalah-salahin dan akhirnya tidak ada yang berubah. Itulah yang mendorong saya untuk serius mendalami ilmu coaching. Saya ingin mengembangkan keterampilan yang bisa benar-benar membantu, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain.

Selama proses belajar dan berlatih sebagai Professional Coach, saya menemukan hal yang tak terduga sebelumnya: aktivitas coaching ternyata berdampak menyembuhkan diri sendiri. Saat membantu coachee mengurai masalah mereka atau menjadi teman diskusi, saya justru sering sekali menemukan jawaban atas masalah-masalah pribadi saya. Kayaknya tuh, ketika kita mendengarkan dan memberi ruang bagi orang lain, kita juga mendapatkan ruang untuk melihat masalah kita sendiri dengan perspektif yang lebih jernih. Istilahnya, healed by healing others.

Setiap Orang Berhak Bahagia dan Berdaya

Dalam perjalanan yang baru sebagai Coach ini, Saya lalu memilih berfokus pada Life Transition Coaching karena saya percaya bahwa setiap perubahan, sekecil apapun itu, bisa menimbulkan gejolak dalam hidup seseorang. Saya mengalaminya sendiri—betapa perubahan seperti pindah-pindah kota, ganti sekolah, ganti teman, berganti profesi dan peran, momen pensiun, perubahan karier, bahkan perubahan kecil dalam rutinitas hidup, bisa sangat mempengaruhi cara kita berpikir, merasa, dan bertindak. Itulah mengapa saya meyakini, jika pendampingan dalam masa transisi hidup itu, sangat penting. Biar kita bisa melalui perubahan itu dengan lebih mudah dan membangun kekuatan diri.

mulai perjalanan

Melalui keahlian saya sebagai Life Transition Coach, saya berharap bisa bermanfaat lebih untuk menemani banyak orang dalam menghadapi perubahan-perubahan hidup mereka. Saya ingin mereka menemukan diri mereka yang baru, yang lebih berdaya, lebih tenang, dan siap menghadapi tantangan berikutnya. Sebab, pada akhirnya, setiap orang berhak merasa kuat dan berdaya, apapun yang sedang mereka hadapi. (JoV)

PADI Dive Instructor

Jadi Instruktur Selam?
Bukan keputusan dadakan kok! Sebenarnya, profesi ini udah kepikiran sejak belasan tahun lalu, meskipun awalnya cuma pengen punya side job biar bisa tetep ngantor. Tapi makin lama, suara laut tuh makin kenceng manggil-manggil, kayak bilang, “Eh, ngantornya di sini aja, bro!”

Dive Master & Open Water SCUBA Instructor

Belum lama selesai itu, muncul lagi dorongan baru: “Kan bisa cari cuan dari diving!” Saya pun lanjut ke jalur pro dengan ambil sertifikasi Dive Master (DM), biar bisa jadi leader yang nemenin Instruktur. Potensi duitnya ada di situ tuh. Kebetulan banget, di tahun 2014 ada mutasi dari kantor yang menggeser saya dari Makassar ke Jakarta, batinku: ada peluang buat upgrade karier selam deh nih. Pas lagi ada program Instructor Development Course (IDC) dari PADI di Jakarta. Dengan segala perjuangan fisik dan mental, akhirnya saya berhasil jadi Open Water SCUBA Instructor plus delapan spesialisasi lainnya. Sejak itu, saya makin fokus menekuni karir di dunia selam, meski masih sambil kerja kantoran juga! (JoV)

Open Water Diver

Semuanya bermula dari rasa penasaran tiap kali snorkeling. Liat kehidupan bawah laut cuma dari permukaan bikin pengen liat yang lebih banyak dan lebih dekat. Setiap ketemu diver, saya selalu kepo, nanya-nanya pengalaman mereka. Sayangnya, di Makassar waktu itu belum ada tempat resmi buat pelatihan menyelam. Jadi, pasa ada dinas ke Manado saya nekat cuti buat ambil sertifikasi Open Water Diving sekalian.

Advanced Open Water Diver

Setengah tahun setelah itu, saya upgrade ke Advanced Diving. Penasaran banget sama sensasi night dive dan eksplorasi kapal karam di bawah laut, yang cuma bisa dicoba kalo udah punya sertifikasi ini. Saya pun cabut ke Tulamben, Bali, buat lanjutin training-nya.

Emergency first Response & Rescue Diver

Semakin sering nyelam di berbagai spot keren di Indonesia dan kenal banyak diver dari berbagai latar belakang, saya makin cinta sama dunia diving. Selain itu, saya mulai sadar pentingnya paham risiko selam. Akhirnya, saya belajar Emergency First Response dan Rescue Dive supaya siap kalo ada kejadian nggak terduga dan bisa ngurangin risiko bahaya buat diri sendiri dan orang lain.

dive instructor

Cerita Jaman Dulu

Oke, saya ajak nengok ke masa kecilku dulu ya. Pada sebuah momen yang akhirnya membuat saya beralasan besar untuk ‘mepet ke laut’.
Tenggelam di Sungai
Saya kecil, waktu itu gak mahir berenang tapi suka banget main di air (kayaknya sebagian besar bocil memang gitu deh ya). Suatu hari, saya diajak para sepupu naik kapal kayu menyeberangi sungai di belakang rumah Kakek di kampung Segeri-Pangkep-Sulsel. Sungai itu cukup lebar dan dalam karena memang digunakan sebagai lalu lintas kapal-kapal kayu besar dan bermuara ke lautan.

Pulangya, setelah menambatkan si kapal kayu di sungai belakang rumah, kakak sepupu langsung melompat dari haluan kapal. Kelihatannya dangkal karena permukaan air cuma sedikit di atas lututnya. Saya pun dengan sotoy-nya ikut lompat dari sisi lambung kapal. Oops! tapi saya meluncur ke dalam sungai dan hanya melihat air warna coklat menyelubungi saya. Panik dan gelagapan saya menendang dan menggapai gak karuan berusaha ke permukaan (which is saya gak tau sebelah mana itu).

Kakak sepupu, gak lama berhasil menolong saya ke permukaan dan dibawa ke tepi sungai. Saya abis diomelin (hampir) oleh seisi kapal akibat ke-sotoy-an itu. Saya tidak tau kalo bagian sungai yang dangkal ternyata hanya beberapa senti saja di daerah dekat haluan kapal. Kontur sungai itu memang cenderung curam bagian tepiannya, untuk membantu kapal tidak kandas ketika merapat.
Bersahabat dengan Air
Dari pengalaman itu, saya bertekad untuk bersahabat dengan yang namanya AIR! Jowvy bocil berusaha belajar berenang yang bener, mendayung perahu, belajar surfing ala-ala dengan cara ‘nyolong’ papan alas kasur di kamar.. buat jadi papan surfingnya.

Bisa dibilang, masa kecilku diuntungkan karena tinggal berpindah-pindah mengikuti Bapak yang ABRI, berdinas di daerah-daerah pelosok dan kepulauan yang tidak pernah jauh dari laut dan sungai. Salah satu alasan mungkin yang membuat saya merasa dekat dan suka dengan laut. Jaman masih Sekolah Dasar dulu, saya bisa tuh nyaris tiap hari pulang sekolah gak langsung ke rumah, tapi malah nyebur dulu ke laut. Karena jalur pulang dari sekolah ke rumah, menyusuri tepian pantai. (JoV)

SSI Baby Swim Instructor

Pengalaman gak enak masa kecil yang pernah nyaris tenggelam, jujur bikin perasaan saya selalu was-was kalo ada anak kecil yang belum bisa berenang. Padahal kita tau, para bocil itu selalu suka main air.

Alasan-alasan itu juga yang bikin saya concern untuk mengajarkan berenang kepada 4 anak saya sejak mereka masih kecil-kecil. Ngajari berenang jaman dulu itu sesimple dicemplungin ke kekolam renang, atau ke laut, atau ke sungai. Udah trus disuruh meluncur dari pojok ke pojok. Kalo orang tuanya gak bisa berenang, sekolah yang jadi andalan. Yang artinya, proses itu menunggu paling enggak setelah si anak usianya

swim instructor

Kenal Jowvy lebih banyak

Pada surat akte kelahiran, tempat lahir saya tercantum: Makassar. Faktanya, saya cuma numpang lahir di sana. Papa saya yang anggota ABRI, menuntut keluarga kami banyak berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti penempatan tugas Papa.

Begitulah, saya pernah merasakan tinggal di Karangploso, Malang, Jawa Timur. Lalu

Booking Session

Jangan biarkan perubahan membuat Anda merasa terjebak. Jadwalkan sesi coaching pribadi dengan saya, Jowvy Kumala, dan kita akan bersama-sama menggali potensi serta merancang langkah strategis untuk mencapai tujuan Anda. Ambil langkah pertama menuju transformasi Anda hari ini!

Bergabung dengan Grup

Apakah Anda mencari dukungan dan inspirasi dalam perjalanan perubahan hidup Anda? Bergabunglah dengan grup kami untuk terhubung dengan individu lain yang juga berproses. Dapatkan wawasan, berbagi pengalaman, dan temukan kekuatan dalam kebersamaan. Klik di bawah untuk bergabung!